Minggu, 07 Desember 2014

Adven Kedua dan Ultah GKMI Pati ke-79 Tahun

 

Kegiatan Adven Kedua dan Ultah GKMI Pati ke-79 Tahun





Dekorasi Adven Kedua dan Ultah GKMI Pati ke-79 Tahun














Penyalaan Lilin Adven Kedua oleh perwakilan dari Komisi Sekolah Minggu













Persembahan Pujian Komisi Sekolah Minggu
















Prosesi Simbol/Bendera GKMI, angka 79












Prosesi Simbol/Bendera GKMI, angka 79














Penampilan Paduan Suara Jemaat GKMI Pati membawakan pujian "PUJI"













 

Pembacaan Sejarah Singkat GKMI Pati 
(Bp. Uriptiyanto Sutanto)














Sambutan Ketua Majelis Jemaat GKMI Pati
(dr. Budi Santoso, Sp. RM.)













Ketua Majelis Jemaat, Gembala Sidang GKMI Pati, Ketua Panitia, Hamba-Hamba Tuhan dari cabang-cabang GKMI Pati





Pemotongan Tumpeng oleh Ketua Majelis Jemaat














Pemotongan Tumpeng oleh Ketua Majelis Jemaat diberikan kepada Gembala Sidang GKMI Pati












Pemotongan Tumpeng oleh Ketua Majelis Jemaat diberikan kepada perwakilan Jemaat Pria












Pemotongan Tumpeng oleh Ketua Majelis Jemaat diberikan kepada perwakilan Jemaat Wanita












Pemotongan Tumpeng oleh Ketua Majelis Jemaat diberikan kepada perwakilan Jemaat Lansia













 Pemotongan Tumpeng oleh Ketua Majelis Jemaat deberikan kepada perwakilan Jemaat Pemuda














Pemotongan Tumpeng oleh Ketua Majelis Jemaat diberikan kepada perwakilan Jemaat Anak-Anak















Pelepasan balon sebagai simbol gereja terus naik meningkatkan diri















Berkat Rasuli (Pdt. Michael Salim, M.Th.)














Doa sebelum menerima berkat jasmani
(Pdt. Didik Hartono, M. Th.)















Saatnya Pesta ULTAH ke-79 GKMI Pati













Saatnya Pesta ULTAH ke-79 GKMI Pati













Setelah Pesta, para ibu-ibu menunggu untuk pemeriksaan Pap Smear
diselenggarakan oleh Komisi Kesehatan dan diikuti oleh 22 orang perserta
 




Jumat, 05 Desember 2014

Adven Pertama

Kegiatan GKMI Pati  menyambut Natal 2014 

pada masa Adven Pertama





























Penyalaan Satu Lilin Ungu oleh perwakilan dari Komisi Wanita "DORKAS"


















Tema Minggu Pertama Adven
"Merobohkan Tembok Pemisah"










Paduan Suara Komisi Wanita "DORKAS" GKMI Pati ---"Bejana Tanah"
http://youtu.be/QQgaRIeFs6Q









Ramah tamah setelah Ibadah selesai

















Aksi Sosial Donor Darah
diikuti oleh 21 orang peserta

Rabu, 26 November 2014

Kegiatan Komisi KESEHATAN GKMI PATI (Pengobatan Gratis di GKMI Pati Cabang Gabus)

Dalam rangka Natal tahun 2014, Panitia Hari-Hari Besar 2014 dan Komisi Kesehatan GKMI Pati mengadakan aksi sosial berupa pengobatan gratis yang diadakan di GKMI Pati cabang Gabus. Pengobatan gratis tersebut dilakukan pada tanggal 23 November 2014, dan telah melayani sebanyak 115 orang pasien.







Persiapan sebelum kegiatan pengobatan gratis dimulai 
Doa pembukaan oleh Pdm. Sri Hartomo












Mengawali kegiatan selalu dengan doa

















Persiapan bagian pendaftaran sebelum pasien-pasien datang







Pasien yang akan diperiksa harus mendaftar terlebih dahulu













Pasien yang sedang menunggu giliran untuk dipanggil


















 Pemeriksaan pasien oleh dr. Tuty Ingniati, M.Kes.














Pemeriksaan pasien oleh dr. Supriyadi, M.Kes.















Pemeriksaan pasien oleh
dr. Albert Tri Rustamadji, Sp. PD. Finasim













Pemeriksaan kadar gula darah oleh
dr. Luther Selawa














Pemeriksaan pasien oleh dokter muda
dr. Naomi












Pemeriksaan pasien oleh dokter muda
dr. Putri















Dokter senior diperiksa oleh dokter junior
















Pasien yang telah diperiksa mengantri menunggu obat















Akhir kegiatan ditutup dengan doa oleh
Pdm. Sri Hartomo

Minggu, 16 November 2014

Renungan Minggu

Kebenaran dan Spiritualitas

Lukas 18 : 9-14


Dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman, kita sering mendengar ucapan-ucapan yang semestinya tidak boleh keluar dari mulut orang percaya, seperti, "dia lebih rohani dari orang lain", "gereja kami lebih rohani daripada gereja mereka", ataupun "gereja kami penuh dengan Roh Kudus, dan gereja mereka tidak", dan seterusnya. Sebagai orang percaya, bagaimana kita semestinya harus memaknai ungkapan-ungkapan tersebut, serta bagaimana kita harus menata hidup kerohanian yang benar di hadapan Allah?
Perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang menjadi perenungan kita hari ini, kiranya dapat menolong kita.

Diceritakan tentang orang Farisi yang ketika berdoa di Bait Allah, berkata dalam hatinya, bahwa dia tidak seperti semua orang lain yang hidup dalam dosa, melainkan sudah melekukan perintah hukum Taurat dengan baik. Sementara itu di ruangan yang sama pada saat yang sama terdapat seorang pemungut cukai yang berdiri jauh-jauh, serta tidak berani menengadah ke langit, sambil memukul diri berkata, "ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." 
Atas peristiwa tersebut, Tuhan Yesus berkata, bahwa pemungut cukai itu pulang pulang kerumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, dan orang lain itu tidak. Dari ungkapan Yesus ini hendak ditekankan, bahwa hidup benar menjadi tidak ada artinya ketika tidak dilandasi oleh kerendahan hati, karena pada akhirnya orang tersebut merasa bahwa kebenaran yang dia dapat adalah upaya dirinya semata dan Tuhan tidak berperan didalamnya. Sedangkan pemungut cukai dengan jujur, terbuka dan rendah hati mengakui keterbatasannya, bahkan kegagalannya melakukan kebenaran. Ia menyesal, yang terekspresikan melalui 'memukul diri'. Ia membutuhkan pertolongan Tuhan.

Bagaimana kita sudah menjalani hidup ini dipandang dari segi berkenan atau tidak kepada Tuhan?
Dua hal yang patut kita renungkan :
Pertama, agar kita tidak terlalu sibuk dengan urusan memperhatikan atau bahkan menghakimi orang lain berhubungan dengan hidup kerohaniannya. Ijinkan Tuhan yang pada akhirnya melihat, apakah hal itu berkenan atau tidak kepadaNya.
Kedua, agar kita secara sadar memahami, bahwa kita di dunia adalah perjalanan ziarah menuju kepada tujuan akhir, yaitu kesempurnaan. Dalam ziarah tersebut tentu kita akan mengalami naik turunnya perjalanan, maka kita perlu dengan serius berjuang agar dapat sampai ditujuan dengan selamat.
Tuhan Yesus memberkati.

(Intisari Kotbah Ibadah Minggu 16 November 2014, Pdt. Nimrod Harianja, M.A.)

Senin, 27 Oktober 2014

Renungan

"Marilah Ke Tempat Yang Sunyi"

(Keseimbangan dan Penyegaran)

Markus 6 : 30-32 ; 45-46




"Jeda Kehidupan" atau istirahat, adalah konsep yang diperkenalkan Tuhan sendiri. Sejak dalam proses penciptaan, dalam tradisi pertanian di Israel, bahkan sampai dalam konsep Hari Sabat, "jeda" menjadi suatu fase yang penting justru untuk kelangsungan kehidupan itu sendiri. Jeda menjadi masa untuk beristirahat; memberi kesempatan pada tubuh, hewan, tanah, untuk memulihkan dan menyegarkan diri; dan bahkan sebagai masa sunyi untuk menciptakan intimasi dengan Tuhan. Sebagaimana gergaji perlu berhenti bekerja dan diasah untuk menjaga ketajamannya, begitu pun dengan kehidupan.

Para murid setelah melakukan suatu tugas pengutusan yang berat (Markus 6 : 6b-13 ; 30), Tuhan Yesus memandang perlu bagi mereka untuk beristirahat. Walaupun pada akhirnya istirahat mereka harus tertunda sebab orang banyak mengikuti mereka (ayat 33). Sekali lagi Tuhan Yesus dan murid-murid melayani mereka untuk beristirahat dengan bertolak ke tempat lain, dan menyuruh orang banyak itu pulang (ayat 45). Yesus sendiri menyingkirkan diri ke sebuah bukit untuk berdoa, menjalin keintiman dengan Allah.

Ketegasan Yesus ini menunjukkan betapa pentingnya "jeda kehidupan", suatu fase istirahat yang akan memberikan kesegaran baru, pemulihan tenaga, keseimbangan diri, waktu untuk instrospeksi, waktu untuk belajar, membangun intimasi dengan Tuhan, dan bahkan menyusun rencana yang lebih konstruktif bagi kehidupan. Orang yang tidak pernah menikmati atau mengusahakan waktu istirahat, justru akan menuai banyak persoalan, sebab kejenuhan.

(Insisari Kotbah Ibadah Minggu, 26 Oktober 2014, Pdm. Andi Oktavian Santoso, M.Div.)

Minggu, 19 Oktober 2014

Renungan

Diciptakan Untuk Pekerjaan Baik

( Efesus 2 : 10; Mazmur 139 : 13-16)



Mazmur 139 : 13-16 menuturkan bahwa manusia adalah ciptaan yang khusus. Dengan teliti Allah memberikan kemampuan dan keistimewaan agar manusia bisa mencapai yang terbaik dalam kehidupannya. Lebih jauh dalam Efesus 2 : 10 ditegaskan bahwa manusia diciptakan untuk melakukan pekerjaan Allah, yang telah disiapkan, dirancangkan sebelumnya. Manusia tidak diciptakan untuk sekedar hidup bagi dirinya, tetapi bagi Allah. Sebab itu dalam perjalanan hidup kaum beriman, narasi utama hidupnya adalah untuk memenuhi tugas Allah. "Jika aku hidup maka itu artinya hidup bagi Allah, bukan bagi diriku sendiri." Oleh sebab itu patut disesalkan jika kemudian dalam hidupnya manusia hanya sibuk mengejar kepentingan pribadinya, atau bahkan hal-hal yang sia-sia.

Beberapa langkah untuk memenuhi tujuan Allah :
1. Menemukan tujuan Allah dengan mengenali potensi diri kita.
2. Mengoptimalkan segenap potensi diri untuk Allah, melalui komunitas dan gerejaNya (menyerap/belajar).
3. Lakukan tugas panggilan hidup dengan kesungguhan, komitmen, dan secara berkesinambungan (memberi/menyebarkan).
4. Ukuran keberhasilan kita bukan hasil, tetapi pada proses yang dilandasi kesadaran dan ketulusan untuk maksimal. Kata orang "Do the best and God will do the rest"

Dalam tataran ini maka pencapaian hidup bukan sekedar berhasil mengarahkan diri pada posisi terhormat dalam masyarakat, tetapi bagaimana hidup kita mencerminkan kemuliaan Allah dalam segala manfaat dan kebaikanNya.
Sebab itu, jika manusia menyia-nyiakan hidupnya, maka sebenarnya ia bukan hanya merusak hidupnya sendiri, tetapi juga merusak tujuan mulia Allah dalam dirinya.
( Intisari Kotbah Ibadah Minggu 19 Oktober 2014, Pdt. Wara Adiati Retno Widuri, M.Min.)

Minggu, 12 Oktober 2014

Pemberkatan Nikah


Pemberkatan Nikah atas diri

Sdr. VICKY SETIAWAN
(Warga Jemaat GKMI Pati, putra (Alm.) Bp. Setiyono Rachmat dan Ibu Misih Ningsih)

dengan

Sdri. SIENNY SIAUL
(Warga Jemaat Gereja Mawar Sharon Surabaya, putri Bp. Collis Siaul dan Ibu Henny Tandra)

Pemberkatan Nikah telah dilaksanakan
Jumat, 10 Oktober 2014,
pk. 17.00 WIB, di GKMI Pati,
dilayani oleh Pdt. Michael Salim, M.Th.


Paduan Suara Komisi Wanita "DORKAS" GKMI Pati dalam acara pemberkatan nikah
http://youtu.be/hva1r-zghXU


Segenap Hamba Tuhan, Majelis Jemaat, dan Jemaat GKMI Pati mengucapkan "Selamat Menempuh Hidup Baru, Tuhan Yesus Memberkati Mempelai Berdua"

Rabu, 08 Oktober 2014



“TANAH LIAT DITANGAN-NYA”
Yeremia 18:1-6

            Tentu kita pernah mendengar ungkapan nasi sudah menjadi bubur? Ungkapan ini melambangkan sesuatu yang kalau sudah terlanjur rusak tidak dapat diperbaiki. Tetapi betulkah demikian? Kalau sudah menjadi bubur tidak bisa diapa-apakan lagi? Tentu tidak! bagi orang yang optimis, akan berkata: dengan sedikit usaha, buburpun bisa enak. Tambahkan saja kuah, kecap, suwiran ayam, daun bawang, kalau ada irisan ca kue, dan sambal.... pasti bisa dinikmati.... bubur ayam yang enak....
            Bagi yang optimis tidak ada yang fatal-fatal amat, selalu ada peluang untuk perbaikan; sebagaimana tertulis: “Apabila bejana yang sedang dibuatnya dari tanah liat ditangannya itu rusak, maka tukang periuk itu, mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya”(4). Pesan Firman ini simpel saja: ada peluang perbaikan. Ada peluang untuk diubah lebih baik. Bahwa sebesar apapun kesalahan kita, sekacau apapun hidup kita, bahkan seberapa parah kita merusak diri kita selalu ada peluang perbaikan, perubahan, perombakkan. TETAPI, catatan pentingnya : perubahan, perbaikkan, perombakan, apapun itu, TIDAK akan terjadi jika kita melupakan satu hal, justru yang menjadi kata kunci dari keseluruhan proses ini:  yaitu DITANGANNYA. Artinya, hanya di tangan Tuhan Sang Tukang Periuk, apa yang rusak dapat dibetulkan. Sebagus apapun kualitas tanah liat, ia tidak akan mampu membentuk dirinya sendiri apalagi memperbaiki dirinya sendiri. Ia selalu memerlukan tangan Sang Tukang . 

Lebih jauh, kita akan melihat teks ini dalam kerangka pembentukan spiritualitas. Bagaimana melalui gambaran yang di dapat Yeremia ini, spiritualitas tidak dimaknai sebagai kata benda yang mati, mandeg. Tetapi sebagai kata sifat yang dapat ditingkatkan levelnya. Jadi spiritulitas memiliki tingkatan tingkatan, anak anak tangga yang semakin tinggi.
Dan KARENA ITU, bagi kita umat beriman, hidup adalah perjalanan untuk menapaki tingkatan demi tingkatan itu. Terus bertumbuh dalam kehidupan sebagai makhluk spiritual, bukan sekedar makhluk duniawi. Pertumbuhan inilah yang digambarkan seperti tanah liat, yang dibentuk, diproses, untuk menjadi sesuatu yang indah oleh Sang Seniman Yang Agung yaitu Tuhan sendiri.  itulah pertumbuhan spiritualitas.  
            Sebelum lebih jauh baik kita melihat sekilas apa itu spiritualitas? Spiritualitas tidak bisa disamakan begitu saja dengan hukum agama, atau keyakinan iman. Spiritualitas mencakup keyakinan iman dan praksis; di mana keyakinan iman dan praksisnya itu telah membentuk sebuah sistem dalam diri seseorang untuk dapat berpikir, merasakan, memutuskan, bicara, bersikap, bertindak, berbuat, yang membangun kehidupannya sendiri, sesamanya ataupun lingkungannya. Seperti otomatis. Contohnya,   ketika sesorang berbuat baik, dan kebaikannya itu terjadi atas dorongan kesadaran, bukan karena takut hukuman atau supaya dapat pahala, maka orang itu dikatakan mempunyai spiritualitas. Contoh lain, jika seseorang berdoa bukan sekedar meminta sesutu pada Tuhan, tetapi karena ia sadar untuk menjaga keintiman dengan Tuhan, itu artinya ia punya spiritualitas. Jika seseorang dapat berbuat jujur, sekalipun kesempatan untuk curang ada di depan matanya, bukan karena takut hukuman, tetapi karena jujur adalah kesadarannya, maka itu adalah spiritualitas. Ketika iman dan praksis itu telah menjadi sistem kesadaran dalam diri seseorang, sehingga tanpa berpikir, tanpa harus diawasi, ditakut takuti, atau diming imingi hadiah, ia melakukan sesuatu yang positif, itu berarti spiritualitas. Ia tidak berpikir atau bicara, tentang Tuhan dan ajaranNya, tetapi Tuhan dan ajarannya ada di dalam dirinya, hidupnya, dalam karyanya, dalam setiap aspek hidupnya, itulah spiritualitas.  Maka biarkan tangan Tuhan Sang Tukang Periuk itu  mengintervensi hidup kita. turut campur, bekerja, mengolah diri kita.

Bagaimana proses ini dapat berjalan dengan baik?

1.  Sebagai tanah liat miliki kejujuran untuk menilai diri apa adanya. Kekurangan, keterbatasan, kelemahan, keberdosaan, bukan sesuatu yang ditutupi atau disangkal dihadapan Tuhan, tetapi harus DIAKUI  (4a). Salah satu penghambat proses pertumbuhan spiritual adalah: merasa diri sudah baik, tidak ada yang perlu diperbaiki. bukankah penghukuman dalam kehidupan bangsa Israel terjadi karena mereka tidak menyadari/ mengakui dosanya? Langkah ini tidak mudah, malah menyakitkan, sebab kita akan diajak untuk melihat seberapa dalamnya kekurangan dan kelemahan kita sendiri. // jika kepada dokter kita tidak jujur dengan keluhan kesehatan kita bagaimana dokter membuat diagnosa yang tepat? Di hadapan Tuhan tidak perlu sok kuat, sok gagah, sok bisa, sok pintar, sehingga malah jadi bumerang bagi kita sendiri.  
    
2.   Sebagai tanah liat miliki kerendahan hati  untuk dibentuk ulang. Banyak orang merasa diri sudah sempurna, bahkan bejana yang bocor dan retak pun sering tidak merasa rusak. Kerendahan hati menjadi pintu pertama dari kesediaan untuk dibentuk kembali menurut apa yang baik dalam pemandangan Tuhan (8). Artinya rendah hati untuk menerima kehendak dan tujuan Tuhan yang menentukan apa dan bagaimananya kita ke depan (12). Orang yang rendah hati tahu bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri, ia tidak berdaulat atasnya, tetapi Tuhan yang berdaulat. Karena itu selalu mencari kehendakNya, jangan hanya kehendak diri kita sendiri saja. 

3.     Siap dibentuk ulang artinya siap ditambah dan dikurangi atau bahkan dirombak, menjadi sama sekali baru. Dalam proses ini ada kalanya kita harus merasakan sakitnya membuang kebiasan lama, bersusah payah membentuk pola hidup baru, atau dibawa ke titik nol, dan kemudian tumbuh sesuai kehendakNya (11b). Banyak orang dalam hidupnya seperti dibawa berputar ke padang gurun. Banyak yang dihentikan, dibelokkan, di lempar ke bawah, di bawa ke tempat tempat yang sukar, ternyata ia sedang dibentuk ulang. Banyak yang tidak tahu, sehingga tidak tahan, mengeluh, memprotes, bahkan meninggalkan Tuhan. sayang...ia tidak pernah melihat hasilnya. Tetapi yang tahan... akan melihat bagaimana bejana baru yang dihasilkannya lebih indah, lebih kuat, lebih manfaat. Sebab ia dibanting lebih kuat dari yang lain, diputar lebih kencang, dipukul lebih banyak, dibakar dua kali lebih panas, dijemur lebih lama.....  

Inilah 3 langkah awal dalam rangka membangun spiritualitas diri kita.  Jadikan diri kita tanah liat di tanganNya. Siap untuk bertumbuh? Tuhan memberkati. (Pdt. Michael Salim)

Minggu, 21 September 2014

Penerimaan Anggota Jemaat GKMI Pati



(dari kiri ke kanan)
Bp. Donny, Ibu Dyannovitta, Ibu Lita, Bp. Totok,
Ibu Elia, Bp. Marsono, Ibu Novani, Sdr. Stevanus














Penyerahan Surat Penerimaan dari Majelis kepada Anggota Jemaat baru











Hari ini tanggal 21 September 2014 pada Kebaktian Umum II, diadakan penerimaan Jemaat baru atas diri :
1. Bp. Donny Abdi Nugroho, dengan no. induk gereja 1942
2. Ibu Dyannovitta Kartika Dewi, dengan no. induk gereja 1943
3. Ibu Lita Meisari, dengan no. induk gereja 1944
4. Ibu Verena Putri Sindoro, dengan no. induk gereja 1945  (berhalangan hadir)
5. Bp. Totok Hery Winarto, dengan no. induk gereja 1946
6. Ibu Elia Sri Rismawati, dengan no. induk gereja 1947
7. Bp. Marsono Utomo, dengan no. induk gereja 1948
8. Ibu Novani Chrissetyorini, dengan no. induk gereja 1949
9. Sdri. Iga Kristy Cahyasari, dengan no. induk gereja 1950 (berhalangan hadir)
10. Sdr. Stevanus Abinery Febriano, dengan no. induk gereja 1951

Segenap Hamba Tuhan, Majelis dan Jemaat GKMI Pati, mengucapkan selamat bergabung, bersekutu dan melayani di GKMI Pati. Tuhan memberkati.