Senin, 27 Oktober 2014

Renungan

"Marilah Ke Tempat Yang Sunyi"

(Keseimbangan dan Penyegaran)

Markus 6 : 30-32 ; 45-46




"Jeda Kehidupan" atau istirahat, adalah konsep yang diperkenalkan Tuhan sendiri. Sejak dalam proses penciptaan, dalam tradisi pertanian di Israel, bahkan sampai dalam konsep Hari Sabat, "jeda" menjadi suatu fase yang penting justru untuk kelangsungan kehidupan itu sendiri. Jeda menjadi masa untuk beristirahat; memberi kesempatan pada tubuh, hewan, tanah, untuk memulihkan dan menyegarkan diri; dan bahkan sebagai masa sunyi untuk menciptakan intimasi dengan Tuhan. Sebagaimana gergaji perlu berhenti bekerja dan diasah untuk menjaga ketajamannya, begitu pun dengan kehidupan.

Para murid setelah melakukan suatu tugas pengutusan yang berat (Markus 6 : 6b-13 ; 30), Tuhan Yesus memandang perlu bagi mereka untuk beristirahat. Walaupun pada akhirnya istirahat mereka harus tertunda sebab orang banyak mengikuti mereka (ayat 33). Sekali lagi Tuhan Yesus dan murid-murid melayani mereka untuk beristirahat dengan bertolak ke tempat lain, dan menyuruh orang banyak itu pulang (ayat 45). Yesus sendiri menyingkirkan diri ke sebuah bukit untuk berdoa, menjalin keintiman dengan Allah.

Ketegasan Yesus ini menunjukkan betapa pentingnya "jeda kehidupan", suatu fase istirahat yang akan memberikan kesegaran baru, pemulihan tenaga, keseimbangan diri, waktu untuk instrospeksi, waktu untuk belajar, membangun intimasi dengan Tuhan, dan bahkan menyusun rencana yang lebih konstruktif bagi kehidupan. Orang yang tidak pernah menikmati atau mengusahakan waktu istirahat, justru akan menuai banyak persoalan, sebab kejenuhan.

(Insisari Kotbah Ibadah Minggu, 26 Oktober 2014, Pdm. Andi Oktavian Santoso, M.Div.)

Minggu, 19 Oktober 2014

Renungan

Diciptakan Untuk Pekerjaan Baik

( Efesus 2 : 10; Mazmur 139 : 13-16)



Mazmur 139 : 13-16 menuturkan bahwa manusia adalah ciptaan yang khusus. Dengan teliti Allah memberikan kemampuan dan keistimewaan agar manusia bisa mencapai yang terbaik dalam kehidupannya. Lebih jauh dalam Efesus 2 : 10 ditegaskan bahwa manusia diciptakan untuk melakukan pekerjaan Allah, yang telah disiapkan, dirancangkan sebelumnya. Manusia tidak diciptakan untuk sekedar hidup bagi dirinya, tetapi bagi Allah. Sebab itu dalam perjalanan hidup kaum beriman, narasi utama hidupnya adalah untuk memenuhi tugas Allah. "Jika aku hidup maka itu artinya hidup bagi Allah, bukan bagi diriku sendiri." Oleh sebab itu patut disesalkan jika kemudian dalam hidupnya manusia hanya sibuk mengejar kepentingan pribadinya, atau bahkan hal-hal yang sia-sia.

Beberapa langkah untuk memenuhi tujuan Allah :
1. Menemukan tujuan Allah dengan mengenali potensi diri kita.
2. Mengoptimalkan segenap potensi diri untuk Allah, melalui komunitas dan gerejaNya (menyerap/belajar).
3. Lakukan tugas panggilan hidup dengan kesungguhan, komitmen, dan secara berkesinambungan (memberi/menyebarkan).
4. Ukuran keberhasilan kita bukan hasil, tetapi pada proses yang dilandasi kesadaran dan ketulusan untuk maksimal. Kata orang "Do the best and God will do the rest"

Dalam tataran ini maka pencapaian hidup bukan sekedar berhasil mengarahkan diri pada posisi terhormat dalam masyarakat, tetapi bagaimana hidup kita mencerminkan kemuliaan Allah dalam segala manfaat dan kebaikanNya.
Sebab itu, jika manusia menyia-nyiakan hidupnya, maka sebenarnya ia bukan hanya merusak hidupnya sendiri, tetapi juga merusak tujuan mulia Allah dalam dirinya.
( Intisari Kotbah Ibadah Minggu 19 Oktober 2014, Pdt. Wara Adiati Retno Widuri, M.Min.)

Minggu, 12 Oktober 2014

Pemberkatan Nikah


Pemberkatan Nikah atas diri

Sdr. VICKY SETIAWAN
(Warga Jemaat GKMI Pati, putra (Alm.) Bp. Setiyono Rachmat dan Ibu Misih Ningsih)

dengan

Sdri. SIENNY SIAUL
(Warga Jemaat Gereja Mawar Sharon Surabaya, putri Bp. Collis Siaul dan Ibu Henny Tandra)

Pemberkatan Nikah telah dilaksanakan
Jumat, 10 Oktober 2014,
pk. 17.00 WIB, di GKMI Pati,
dilayani oleh Pdt. Michael Salim, M.Th.


Paduan Suara Komisi Wanita "DORKAS" GKMI Pati dalam acara pemberkatan nikah
http://youtu.be/hva1r-zghXU


Segenap Hamba Tuhan, Majelis Jemaat, dan Jemaat GKMI Pati mengucapkan "Selamat Menempuh Hidup Baru, Tuhan Yesus Memberkati Mempelai Berdua"

Rabu, 08 Oktober 2014



“TANAH LIAT DITANGAN-NYA”
Yeremia 18:1-6

            Tentu kita pernah mendengar ungkapan nasi sudah menjadi bubur? Ungkapan ini melambangkan sesuatu yang kalau sudah terlanjur rusak tidak dapat diperbaiki. Tetapi betulkah demikian? Kalau sudah menjadi bubur tidak bisa diapa-apakan lagi? Tentu tidak! bagi orang yang optimis, akan berkata: dengan sedikit usaha, buburpun bisa enak. Tambahkan saja kuah, kecap, suwiran ayam, daun bawang, kalau ada irisan ca kue, dan sambal.... pasti bisa dinikmati.... bubur ayam yang enak....
            Bagi yang optimis tidak ada yang fatal-fatal amat, selalu ada peluang untuk perbaikan; sebagaimana tertulis: “Apabila bejana yang sedang dibuatnya dari tanah liat ditangannya itu rusak, maka tukang periuk itu, mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya”(4). Pesan Firman ini simpel saja: ada peluang perbaikan. Ada peluang untuk diubah lebih baik. Bahwa sebesar apapun kesalahan kita, sekacau apapun hidup kita, bahkan seberapa parah kita merusak diri kita selalu ada peluang perbaikan, perubahan, perombakkan. TETAPI, catatan pentingnya : perubahan, perbaikkan, perombakan, apapun itu, TIDAK akan terjadi jika kita melupakan satu hal, justru yang menjadi kata kunci dari keseluruhan proses ini:  yaitu DITANGANNYA. Artinya, hanya di tangan Tuhan Sang Tukang Periuk, apa yang rusak dapat dibetulkan. Sebagus apapun kualitas tanah liat, ia tidak akan mampu membentuk dirinya sendiri apalagi memperbaiki dirinya sendiri. Ia selalu memerlukan tangan Sang Tukang . 

Lebih jauh, kita akan melihat teks ini dalam kerangka pembentukan spiritualitas. Bagaimana melalui gambaran yang di dapat Yeremia ini, spiritualitas tidak dimaknai sebagai kata benda yang mati, mandeg. Tetapi sebagai kata sifat yang dapat ditingkatkan levelnya. Jadi spiritulitas memiliki tingkatan tingkatan, anak anak tangga yang semakin tinggi.
Dan KARENA ITU, bagi kita umat beriman, hidup adalah perjalanan untuk menapaki tingkatan demi tingkatan itu. Terus bertumbuh dalam kehidupan sebagai makhluk spiritual, bukan sekedar makhluk duniawi. Pertumbuhan inilah yang digambarkan seperti tanah liat, yang dibentuk, diproses, untuk menjadi sesuatu yang indah oleh Sang Seniman Yang Agung yaitu Tuhan sendiri.  itulah pertumbuhan spiritualitas.  
            Sebelum lebih jauh baik kita melihat sekilas apa itu spiritualitas? Spiritualitas tidak bisa disamakan begitu saja dengan hukum agama, atau keyakinan iman. Spiritualitas mencakup keyakinan iman dan praksis; di mana keyakinan iman dan praksisnya itu telah membentuk sebuah sistem dalam diri seseorang untuk dapat berpikir, merasakan, memutuskan, bicara, bersikap, bertindak, berbuat, yang membangun kehidupannya sendiri, sesamanya ataupun lingkungannya. Seperti otomatis. Contohnya,   ketika sesorang berbuat baik, dan kebaikannya itu terjadi atas dorongan kesadaran, bukan karena takut hukuman atau supaya dapat pahala, maka orang itu dikatakan mempunyai spiritualitas. Contoh lain, jika seseorang berdoa bukan sekedar meminta sesutu pada Tuhan, tetapi karena ia sadar untuk menjaga keintiman dengan Tuhan, itu artinya ia punya spiritualitas. Jika seseorang dapat berbuat jujur, sekalipun kesempatan untuk curang ada di depan matanya, bukan karena takut hukuman, tetapi karena jujur adalah kesadarannya, maka itu adalah spiritualitas. Ketika iman dan praksis itu telah menjadi sistem kesadaran dalam diri seseorang, sehingga tanpa berpikir, tanpa harus diawasi, ditakut takuti, atau diming imingi hadiah, ia melakukan sesuatu yang positif, itu berarti spiritualitas. Ia tidak berpikir atau bicara, tentang Tuhan dan ajaranNya, tetapi Tuhan dan ajarannya ada di dalam dirinya, hidupnya, dalam karyanya, dalam setiap aspek hidupnya, itulah spiritualitas.  Maka biarkan tangan Tuhan Sang Tukang Periuk itu  mengintervensi hidup kita. turut campur, bekerja, mengolah diri kita.

Bagaimana proses ini dapat berjalan dengan baik?

1.  Sebagai tanah liat miliki kejujuran untuk menilai diri apa adanya. Kekurangan, keterbatasan, kelemahan, keberdosaan, bukan sesuatu yang ditutupi atau disangkal dihadapan Tuhan, tetapi harus DIAKUI  (4a). Salah satu penghambat proses pertumbuhan spiritual adalah: merasa diri sudah baik, tidak ada yang perlu diperbaiki. bukankah penghukuman dalam kehidupan bangsa Israel terjadi karena mereka tidak menyadari/ mengakui dosanya? Langkah ini tidak mudah, malah menyakitkan, sebab kita akan diajak untuk melihat seberapa dalamnya kekurangan dan kelemahan kita sendiri. // jika kepada dokter kita tidak jujur dengan keluhan kesehatan kita bagaimana dokter membuat diagnosa yang tepat? Di hadapan Tuhan tidak perlu sok kuat, sok gagah, sok bisa, sok pintar, sehingga malah jadi bumerang bagi kita sendiri.  
    
2.   Sebagai tanah liat miliki kerendahan hati  untuk dibentuk ulang. Banyak orang merasa diri sudah sempurna, bahkan bejana yang bocor dan retak pun sering tidak merasa rusak. Kerendahan hati menjadi pintu pertama dari kesediaan untuk dibentuk kembali menurut apa yang baik dalam pemandangan Tuhan (8). Artinya rendah hati untuk menerima kehendak dan tujuan Tuhan yang menentukan apa dan bagaimananya kita ke depan (12). Orang yang rendah hati tahu bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri, ia tidak berdaulat atasnya, tetapi Tuhan yang berdaulat. Karena itu selalu mencari kehendakNya, jangan hanya kehendak diri kita sendiri saja. 

3.     Siap dibentuk ulang artinya siap ditambah dan dikurangi atau bahkan dirombak, menjadi sama sekali baru. Dalam proses ini ada kalanya kita harus merasakan sakitnya membuang kebiasan lama, bersusah payah membentuk pola hidup baru, atau dibawa ke titik nol, dan kemudian tumbuh sesuai kehendakNya (11b). Banyak orang dalam hidupnya seperti dibawa berputar ke padang gurun. Banyak yang dihentikan, dibelokkan, di lempar ke bawah, di bawa ke tempat tempat yang sukar, ternyata ia sedang dibentuk ulang. Banyak yang tidak tahu, sehingga tidak tahan, mengeluh, memprotes, bahkan meninggalkan Tuhan. sayang...ia tidak pernah melihat hasilnya. Tetapi yang tahan... akan melihat bagaimana bejana baru yang dihasilkannya lebih indah, lebih kuat, lebih manfaat. Sebab ia dibanting lebih kuat dari yang lain, diputar lebih kencang, dipukul lebih banyak, dibakar dua kali lebih panas, dijemur lebih lama.....  

Inilah 3 langkah awal dalam rangka membangun spiritualitas diri kita.  Jadikan diri kita tanah liat di tanganNya. Siap untuk bertumbuh? Tuhan memberkati. (Pdt. Michael Salim)

Minggu, 21 September 2014

Penerimaan Anggota Jemaat GKMI Pati



(dari kiri ke kanan)
Bp. Donny, Ibu Dyannovitta, Ibu Lita, Bp. Totok,
Ibu Elia, Bp. Marsono, Ibu Novani, Sdr. Stevanus














Penyerahan Surat Penerimaan dari Majelis kepada Anggota Jemaat baru











Hari ini tanggal 21 September 2014 pada Kebaktian Umum II, diadakan penerimaan Jemaat baru atas diri :
1. Bp. Donny Abdi Nugroho, dengan no. induk gereja 1942
2. Ibu Dyannovitta Kartika Dewi, dengan no. induk gereja 1943
3. Ibu Lita Meisari, dengan no. induk gereja 1944
4. Ibu Verena Putri Sindoro, dengan no. induk gereja 1945  (berhalangan hadir)
5. Bp. Totok Hery Winarto, dengan no. induk gereja 1946
6. Ibu Elia Sri Rismawati, dengan no. induk gereja 1947
7. Bp. Marsono Utomo, dengan no. induk gereja 1948
8. Ibu Novani Chrissetyorini, dengan no. induk gereja 1949
9. Sdri. Iga Kristy Cahyasari, dengan no. induk gereja 1950 (berhalangan hadir)
10. Sdr. Stevanus Abinery Febriano, dengan no. induk gereja 1951

Segenap Hamba Tuhan, Majelis dan Jemaat GKMI Pati, mengucapkan selamat bergabung, bersekutu dan melayani di GKMI Pati. Tuhan memberkati.







Minggu, 29 Juni 2014


"Keunikan-Keunikan"  GKMI PATI
untuk menemukan 'keunikan-keunikan' lainnya, datang dan berkunjunglah ke GKMI Pati

Kamis, 29 Mei 2014



Segenap Hamba Tuhan, Majelis Jemaat, dan Jemaat GKMI PATI 

mengucapkan

Selamat Memperingati Hari kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke Surga

 

Tuhan Memberkati

Selasa, 27 Mei 2014


Segenap Hamba Tuhan, Majelis Jemaat dan Jemaat GKMI PATI
mengucapkan
Selamat Memperingati Isra Mi'raj

Minggu, 16 Mei 2010

Renungan Minggu 16052010

" MISI YANG MENGUBAHKAN "
Yoh 4 : 1-42

Dalam menyikapi konfik manusia lebih suka membangun tembok atau memperlebar jurang pemisah. Konflik antara bangsa Yahudi dan Samaria telah terjadi ratusan tahun disadari atau tidak telah terjadi semacam tembok pemisah yang sangat sulit ditembus (ay.9).
"Tembok pemisah" itu dibangun berdasarkan superioritas dan kecurigaan satu sama lain dalam bentuk sebutan kafir/najis, dan dalam sikap yang penuh tuduhan, kebencian dan kekerasan.

Ditengah-tengah situasi seperti itu, Yesus membawa misi yang mengubahkan:
YESUS --> Perempuan Samaria -->Bangsa Samaria. Yesus "harus" melintasi daerah superioritas (ay.4,5,42), menjalin relasi yang lebih terbuka,adil dan damai (ay.7), membuka karya keselamatan bagi semua bangsa (ay.13-14), menegaskan misi yang mengubahkan melalui pewahyuan pribadi Yesus kepada seorang perempuan Samaria (ay.21,22,26).

Dengan semuanya itu Yesus mengubahkan perempuan Samaria itu :
  1. Dari pribadi yang tertutup dan terpuruk karena sejarah hidupnya menjadi terbuka dan berani berkomunikasi dengan banyak orang;
  2. Kalau tadinya fokus pada kebutuhan sehari-hari : air, berubah fokusnya menjadi kebutuhan rohani : "air hidup" yang menyelamatkan;
  3. Kalau sebelumnya sebagai pribadi yang harkat kemanusiaan yang direndahkan (defisit) dalam masyarakatnya sekarang menjadi saksi Injil atau menjadi misionaris pertama untuk kota Samaria (multiplikasi). Bahkan, pada akhirnya banyak orang Samaria menjadi percaya karena perkataan perempuan itu (ay.39).

Miliki hati yang senantiasa tergerak oleh belas kasih agar kami dapat bermisi; pahami keselamatan yang kita miliki sebagai sebuah tempayan yang penuh air yang harus dialirkan pada tempayan-tempayan yang masih kosong; buang segala prasangka, kebencian, dan perhitungan untung rugi sebab semua itu dapat menjadi hambatan dalam bermisi, gunakan segenap potensi diri/organisasi untuk melakukan tindakan misi; buat rencana strategi yang jelas untuk mencapai suatu sasaran misi yang luas/holistik.

Misi bukan sekedar angka tetapi perubahan yang utuh dalam diri manusia karena itu nyatakanlah misi yang holistik.

Tuhan memberkati

( Pdt. Michael Salim-Hamba Tuhan yang menggembalakan Jemaat GKMI Pati )


Mohon dukungan doa :
Dalam bulan misi Sinode, Rombongan Hamba Tuhan PGMW 3 akan berangkat bersama-sama pada tanggal 19-27 Mei 2010 untuk melayani di beberapa POS PIPKA yang berada didaerah pedalaman Kapuas Hulu-Kalimantan Barat.
GKMI Pati akan mengutus Pdt.Didik Hartono,S.Ag dalam pelayanan ini.
Mohon perhatian dan dukungan doa dari segenap Jemaat.

Senin, 02 Maret 2009

Renungan Warta Jemaat 09/09

ALLAH ADALAH PENJUNAN SEMPURNA DAN KITA ADALAH BEJANA YANG SEMPURNA HASIL CIPTAANNYA

Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu. Yesaya 64 : 8

Hubungan Allah dengan umatNya digambarkan seperti hubungan tukang periuk dengan periuk atau bejana yang dibuatnya. Allah sebagai penjunan atau tukang periuk atau pembuat barang-barang dari tanah liat/grabah, dan kita umatNya sebagai periuk atau bejana yang dibuat olehNya.

Sang penjunan atau Sang Tukang Periuk ketika membuat bejana tentu ada maksud dan tujuannya. Salah satu tujuannya yang penting ketika tukang periuk membuat bejana ialah supaya bejana yang dibuat itu bias berguna atau bias berfungsi dengan baik sesuai yang dikehendakinya.

Sebagai “ bejana “ yang dibuat dan dibentuk oleh Sang Penjunan maka diharapkan kita dapat mengerti makna dan fungsi untuk apa bejana itu dibuat.
Sebagai bejana dan dibentuk olehNya maka hendaklah kita semakin mengenal Dia yang telah membentuk kita.

Dan kemudian selanjutnya hendaklah kita dapat semakin mengerti apa kehendak Dia atas hidup kita sebagai bejana yang dibuat olehNya.
Supaya kita tidak mengecewakan Dia yang telah membentuk kita, tetapi kita dapat hidup semakin berguna dan berfungsi sesuai dengan yang diperkenankan dan dikehendakiNya.

Amin.

( Pdt. Martono,S.Th – Gembala Jemaat GKMI Pati Cabang Karangwage )

Selasa, 24 Februari 2009

Renungan Warta Jemaat 08/09

AWAS...Luntur Kasihmu
( Wahyu 2 : 1 -7 )

Sepasang suami istri terlihat sedang bertengkar dengan hebat, sampai-sampai bukan hanya mulut yang berbicara, namun juga terdengar gebrakan meja yang ada didepan mereka. Sang istri dengan sura lantang berkata : " pokoknya aku minta cerai...aku sudah tidak tahan lagi hidup bersamamu. Kamu yang sekarang ternyata sudah berbeda dengan kamu yang aku kenal 5 tahun yang lalu".
Lanjut sang istri : " kamu yang dulunya begitu perhatian, sekarang seakan tidak ada lagi waktu untukku; kamu yang begitu hangat sekarang begitu dingin ".

Dengan suara yang tidak kalah lantang, sang suami menjawab : " kamu sendiri yang sudah berubah !!! Kamu itu dulu begitu lembut, sekarang sudah tidak lagi kujumpai kelembutanmu; kamu dulunya adalah seorang wanita yang penuh dengan kasih, sekarang ternyata baru kelihatan sifat aslimu ".

Sepenggal percakapan diatas menunjukkan bahwa memang manusia pada dasarnya bisa berubah, bukan saja kearah yang baik tetapi juga kearah yang buruk. Pada mulanya begitu sabar, tidak suka marah, sangat murah hati dan tidak pencemburu, tapi kini...semua telah berubah.

Menjaga konsistensi kebaikan - termasuk didalamnya kasih - yang ada pada diri kita sangatlah perlu, walaupun itu tidaklah mudah. Dalam firmanNya, Tuhan mengatakan kepada jemaat yang ada di Efesus : " Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula " ( ay.4 )
Walau jemaat Efesus adalah jemaat yang tidak kenal lelah dan tekun, tetap sabar dan menderita karena nama Tuhan; namun Tuhan tetap mencela mereka karena mereka telah bergeser dari kasih yang semula.
Bahkan kemudian Tuhan katakan : " Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan " ( ay.5 ).

Betapa pentingnya menjaga kasih yang telah ada. Hati-hatilah karena ditengah berbagai problema hidup yang ada, kasih itu bisa " luntur " ditelan waktu.

AWAS...Luntur Kasihmu...

( Pdt.Didik Hartono, S.Ag - Gembala Jemaat GKMI Pati Cabang Winong )


Bacaan FT : Wahyu 2 : 1-7
2:1. "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2:2 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
2:3 Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
2:4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
2:5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
2:6 Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.
2:7 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."

Senin, 23 Februari 2009

Share

LIFE SHOULD BE A BEAUTIFUL THING TO HAVE
(HIDUP SEHARUSNYA SESUATU HAL YANG INDAH UNTUK DIMILIKI)

 

 

Di dalam perjalanan hidup kita, ada masa-masa dimana kita mengalami fase/ tahap decline (menurun) karena berbagai macam faktor. Sangatlah wajar untuk mengalami hal tersebut sebagai manusia.

 

Pengalaman hidup pribadi saya menjadi ide awal untuk menulis sebuah artikel kecil ini. Tentunya, semasa pergumulan hidup saya (1,5 tahun), tidak semuanya mewakili isi dalam artikel ini, sebagaimana juga calon pembaca. Saya tidak bermaksud menggurui atau "sok tahu" dalam hal ini, karena saya bukan seorang psikolog. Tetapi saya hanya ingin mengingatkan, sebagaimana saya tahu bahwa kebanyakan dari kita mungkin sudah mengerti tetapi saat dalam masalah, hati dan pikiran kita tidak jernih, mengakibatkan kita kemudian lupa dengan hal-hal yang umum sekalipun. Disinilah harapan saya agar artikel ini bisa membantu mengingatkan teman-teman. Semoga artikel ini bisa menjadi berkat bagi teman-teman sekalian.

 

 

 

Dalam pergumulan hidup saya, ada beberapa racun yang menghalangi kita untuk bisa bangkit lagi. Racun tersebut mungkin bisa muncul sebagai efek dari proses stres/ depresi yang kita alami, atau secara sadar atau tidak sadar sudah merupakan karakter kita yang terpendam.

 

Berikut ini adalah racun-racun semasa kita dalam tahap decline. Dimana kalau kita tidak mempunyai antibodi yang tepat, maka kita bisa terperosok lebih dalam lagi (saturation).

                                                                                                                                                   

 

 

Racun pertama: Menghindar

Menyebabkan kita lari dari kenyataan dan mengabaikan tanggung jawab. Meskipun kita tahu bahwa dengan melarikan diri dari kenyataan (dengan menggunakan berbagai cara pelampiasan), hanyalah kebahagiaan semu sesaat yang akan kita dapatkan. Masalahnya adalah saat kita sadar, kita sudah tenggelam lebih jauh lagi, dan untuk kembali ke "posisi awal", tidak akan mudah.

Antibodinya: Realistis (menerima segala sesuatu apa adanya) dan bersyukur

Cara: Menghindar sebagaimana dibahas di sini, bisa berujung kepada "pelampiasan" atau pelarian (menghindar dari masalah) dengan berbagai macam cara seperti:

  1. Pemakaian obat-obatan terlarang
  2. Larut kepada kehidupan malam yang berlebihan
  3. Kecanduan bermain game, film porno, dan lain-lain
  4. Segala bentuk cara yang sifatnya berlebihan, tak terkontrol, dan merusak

Semua cara di atas, adalah bentuk pelampiasan dengan harapan mendapatkan kebahagiaan. Cara-cara tersebut dilakukan sebagai bentuk usaha untuk menghidari masalah atau realita kehidupan yang tidak bisa diterima. Berhentilah menipu diri sendiri, terimalah segala sesuatu apa adanya. Kalau memang ada masalah, jujurlah pada diri sendiri dan katakan "kita sedang menghadapi masalah", kemudian cari jalan untuk menyelesaikan masalah tersebut secara positif. Tetapi perlu diingat untuk jangan terlalu mendramatisir masalah, karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti dan "menikmati" kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi (mencari kambing hitam). Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinlah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras. Di saat seperti ini, bersyukur merupakan salah satu kunci karena dengan mensyukuri segala seuatu, kita menempatkan "segala hal" dalam perspektif (berpikir lebih luas lagi).

 
Racun kedua: Ketakutan

Seseorang yang terkena racun di atas, akan merasa tidak yakin diri, tegang, cemas, putus asa, apatis, dan skeptis. Bisa disebabkan oleh kesulitan keuangan, konflik pencarian jati diri, kesulitan seksual, masalah sekolah, menganggur, masalah keluarga dan lain-lain.

Antibodinya: Keberanian

Cara: Berusaha untuk tidak menjadi sosok yang bergantung pada  kecemasan. Ingatlah, 99% hal yang kita cemaskan, tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Keberanian merupakan merupakan proses re-education atau proses belajar berkelanjutan. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog. Teman dekatpun bisa menjadi alternatif bantuan, tetapi pilihlah teman yang kira-kira sudah mempunyai pengalaman. Intinya, keberanian adalah "sesuatu" yang tumbuh dan berkembang seiring perjalanan hidup sesorang, so always be up to date. 

 
Racun ketiga: Egoistis

Menyebabkan orang selalu mementingkan diri sendiri dalam arti yang extreme, materialistis, agresif, dan lebih suka meminta daripada memberi. Egois bisa dikarenakan sudah merupakan karakter seseorang atau sifat sementara yang muncul selama "fase pergumulan". Dikarenakan seseorang tersebut sering dikecewakan oleh temannya dan selalu menjadi korban eksploitasi. Orang yg dasarnya baik dan murah hatipun bisa menjadi egois saat dia merasa orang-orang yang dia pedulikan dan perhatikan, tidak bersikap sama terhadap dirinya.

Antibodinya: Kemurahan dan bersikap sosial

Cara: Jangan mengeksploitasi teman dengan dasar pelampiasan. Pembalasan dan rasa dendam tidak akan membawa kebahagiaan. Untuk orang yang memang mempunyai karakter egois, percayalah bahwa kebahagian yang dicari dengan cara "tidak mau tahu dengan orang lain", tidak bersifat kekal. Di lain sisi, kebahagiaan bisa diperoleh dengan menolong dan membahagiakan orang lain. Tolong jangan menjadi egois karena pelampiasan atau balas dendam karena itu artinya, hati dan pikiran kita telah terkorupsi. Saat kita bisa menjaga hati dan pikiran kita, terus menanamkan sikap sosial dan memupuk kemurahan, disitulah kita akan meraih KemenangaN yang SejatI. Tentunya, kemurahan dan sikap sosial kita terhadap orang lain harus dilandasi dengan prinsip "cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati". Perlu diketahui juga, bahwa orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain, berprinsip lebih baik memberi daripada menerima, melakukan segala sesuatunya dengan tulus, adalah orang yang tidak mudah untuk merasa dikecewakan.

 

Racun keempat: Stagnasi

Gejalanya seperti berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia. Ada perasaan dimana kita tidak maju-maju dan selalu berputar dalam masalah, dan pergumulan yang sama.

Antibodinya: Sukacita, harapan, cita-cita, dan impian

Cara: Berusaha untuk bisa bersuka-cita dan bersyukur dalam segala hal, adalah salah satu awal dari segalanya. Orang yang penuh sukacita dan tahu bersyukur, akan selalu memiliki harapan, cita-cita, dan impian, yang senantiasa bisa dipelihara. Teruslah bertumbuh, artinya kita terus memupuk harapan, bercita-cita, dan tetap memiliki impian untuk masa depan kita. Disitulah letak gairah hidup kita. Janganlah merasa malu untuk bermimpi setinggi mungkin selama rencana hidup kita sehari-hari adalah realistis.

 

Racun kelima: Rasa rendah diri

Terciptanya perasaan kehilangan keyakinan dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing. Hal ini bisa berkaitan dengan ketakutan yang muncul dalam diri seseorang. Kegagalan yang berulang-ulang bisa menyebabkan seseorang untuk menjadi rendah diri dan takut.

Antibodinya: Keyakinan dan kesadaran diri

Cara: Orang tidak perlu merasa takut untuk menerima suatu kegagalan dan masalah. Jangan mencoba untuk menipu diri sendiri. Kalau memang gagal/ tidak berhasil, katakanlah pada dirimu bahwa saya telah gagal atau tidak berhasil. Jangan mencoba memutar-balikan fakta dengan kata-kata manis bahwa tidak ada kegagalan dalam hidup, yang ada adalah bla...bla... bla... (seperti kata-kata yang keluar dari mulut kebanyakan motivational speaker yang kerjaannya memanfaatkan dan meraih keuntungan dari "orang-orang bingung"). Hanya saja, bahwa sikap realistis tersebut harus disertai dengan keyakinan dan kesadaran diri yang baik untuk bisa melewati segala macam rintangan. Seseorang tidak akan bisa menang, bila sebelum berperang saja, sudah merasa dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin (dengan kesadaran diri bukan angan-angan kosong) bahwa kita mampu mencapainya.


Racun keenam: Arogansi atau keangkuhan

Bisa dikatakan sebagai kompleks superioritas (tidak ada yang lebih baik dari dirinya dalam segala hal), terlampau sombong (punya sifat extreme), kebanggaan diri palsu. Sebagaimana egoistis yang sudah kita bahas di atas, racun kali ini bisa merupakan karakter atau juga bentuk pelampiasan atau hasil dari upaya untuk menutupi ketakutan, rasa rendah diri, malu, dan segala-hal yang berlawanan dari yang diharapkan (kebanggaan diri palsu).

 

Antibodinya: Rendah hati, kebaikan, dan damai sejahtera

Cara: Sangatlah penting untuk selalu ditanamkan dalam diri setiap orang bahwa kita tinggal ditengah-tengan realita kehidupan yang kenyataannya tidak selalu indah, lancar, dan menyenangkan. Segala sesuatu ada maksud dan tujuannya. Dengan bersikap arogan atau angkuh, orang tidak akan bersimpati kepada diri kita dan tanpa orang lain kita bukanlah siapa-siapa. Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, dimana kehadiran teman, bisa ikut mengurangi beban pergumulan diri serta membantu pengembangan dan kemajuan diri . Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, bersikap dan berbuat baik, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain. Memang kita adalah orang yang paling tahu tentang diri kita sendiri, tetapi ada beberapa hal dimana hanya orang lain yang bisa menilai dengan obyektif tentang diri kita. Untuk mengetahui sejauh mana dan kapan kita menerima dan menyaring pendapat orang lain, hanya pengalaman hidup kita masing-masing yang lebih tahu. Setidaknya, hal tersebut akan membantu kita untuk lebih obyektif dan mudah untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas diri (karena tidak merasa dirinya adalah yang terbaik). Satu poin yang tak kalah penting adalah damai sejahtera. Damai sejahtera bisa membuat orang tidak terlalu larut dalam usahanya untuk lari dari kenyataan dan penuh rasa "kemrungsung" atau selalu gelisah, cemas, dan tidak puas diri, yang bisa berakhir dengan upaya-upaya membatasi/ menutup diri dengan pencitraan sosok arogan atau angkuh.

 

 

Racun ketujuh: Mengasihani diri

Suatu kebiasaan menarik perhatian atau minta dikasihani dan bisa juga kedua-duanya. Ada suasana yang dominan, murung, menghujani diri sendiri dengan segala bentuk pikiran-pikiran negatif, dan merasa menjadi orang termalang di dunia.

Antibodinya: Sikap positif, kesabaran, dan setia terhadap diri sendiri

Cara: Mengasihani diri sendiri tidak akan menyelesaikan pergumulan atau permasalahan seseorang. Gejala-gejala tersebut cukup identik dengan tipe orang tertutup. Tetapi selama orang dengan tipe yang tertutup masih bisa menjaga dirinya dengan "seimbang", sifat tertutup tersebut tidaklah destructive atau bersifat merusak. Terkadang, kita berpikir dengan merasa sebagai orang termalang di dunia, kita bisa lebih pasrah, dan hal tersebut bisa membuat kita bahagia. Lebih cocok lagi kalau kita bisa mendapat teman "curhat" yang serupa, lengkaplah sudah kita menikmati kemalangan kita. Sayangnya, hal tersebut tidaklah tepat dan membantu. Pasrah dalam arti "bisa menerima" itu hal positif, tetapi pasrah yang kita bahas di atas lebih bersifat putus asa, apatis/ cuek, dan skeptis/ sinis. Berhentilah terpaku pada diri sendiri. Hadapi masalah dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain. Mari kita bangun sikap positif dan dengan penuh kesabaran kita lewati permasalahan dan pergumulan kita. Setialah pada diri kita sendiri, karena segala sesuatu ada masanya dan akan indah pada waktunya.

 

Racun kedelapan: Sikap bermalas-malasan

Indikasi-indikasi yang terlihat adalah sikap apatis, jenuh berlanjut, melamun, susah berkonsentrasi, kesadaran diri yang rendah, menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, dan merasa kesepian. Pada masa pergumulan kita, ada titik dimana kita menjadi stress atau yang lebih parahnya depresi.

Antibodinya: Kerja

Cara: Carilah kegiatan-kegiatan positif. Bisa dalam bentuk olah-raga, membaca buku, membikin acara dengan teman-teman, dan lain-lain. Tetapi dalam usaha kita mencari dan melakukan kegiatan positif untuk menanggulangi sikap bermalas-malasan, ada 3 hal utama yang harus diingat:

  1. Kegiatan bisa dikatakan positif selama memiliki ciri-ciri berguna dan membangun
  2. Tujuan beraktivitas tidak sebagai bentuk pelampiasan untuk lari dari masalah
  3. Aktivitas tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran untuk kebangkitan diri

 

 

 

Racun kesembilan: Sikap tidak toleran

Racun tersebut di atas berujung pada pikiran picik dan kebencian rasial yang dalam, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius yang berlebihan, dan merasa paling benar sendiri. Hal-hal tersebut muncul dikarenakan pengalaman hidup yang pahit. Merasa stress, depresi, terhimpit masalah yang sepertinya tidak ada jalan keluar, sehingga akhirnya berujung terhadap pencarian kambing hitam. Terkadang, luka batin dan akar kepahitan di masa lalu juga bisa ikut berperan.

Antibodinya: Penguasaan diri

Cara: Tenangkan dahulu segala emosi yang bersifat negatif seperti kemarahan dan kebencian. Setelah pikiran dan hati kita tenang, tanamkan pengertian bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap diri mereka masing-masing. Setelah kita dewasa, tidak boleh lagi menyalahkan orang lain atas segala sesuatu yang kita alami. Kuasai pikiran kita melalui penguasaan diri yang baik. Lihat segala sesuatunya dari segala sisi dan perspektif. Proses pengamatan harus dilakukan secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Kemudian ingatlah, bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman suku, bangsa, budaya, dan agama. Hal tersebut sudah terjadi dari ribuan tahun yang lalu. Saat kita bisa melalui proses di atas, maka sikap toleransi kita akan membantu kita untuk berpikiran lebih terbuka dan bersikap lebih simpatik, yang pada akhirnya akan membantu kita keluar dari jurang depresi atau masalah.


Racun kesepuluh: Kebencian

Mengakibatkan muncul keinginan balas dendam, sifat kejam, dan bengis. Untuk tahap ringan, mungkin hanya sifat-sifat liar seperti kekerasan, baik perbuatan maupun perkataan. Tingkah laku yang bersifat menindas orang lain seperti premanisme, mungkin juga bisa mengakar dari kebencian dan sikap tidak toleran. Racun tersebut bisa muncul sebagai dampak dari stres dan juga depresi. Sama halnya dengan beberapa racun di atas, racun kali ini bisa merupakan karakter bawaan atau hanya efek sementara saja.

Antibodinya: Cinta kasih, kesetiaan, dan kesabaran

Cara: Kebencian memang salah satu sifat dasar manusia sejak dulu, sifat yang tumbuh bersama tetapi bertolak belakang dengan kasih. Kebencian akan hanya bisa ditawarkan dengan cinta kasih. Mungkin, ada beragam reaksi dari kita melihat kalimat di atas, ada yang setuju, biasa saja, sampai dengan jijik, atau merasa kalimat tersebut muluk-muluk/ berlebihan. Tetapi itulah kenyataannya. Dengan cinta kasih, orang bisa belajar untuk memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidak bahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci terhadap orang lain, biasanya, secara sadar atau tidak sadar, dikarenakan dia membenci dirinya sendiri. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang. Simpanlah paket tiket untuk perasaan tidak bahagia dan mengaculah pada paket tiket ini saat kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia. Gunakan sebagai sarana pertolongan pertama dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindar dari ketidak bahagiaan berlanjut pada masa mendatang. Perlu diingat bahwa cinta kasih bisa memperkuat sifat kesetiaan dan kesabaran. Dimana setia dan sabar, adalah instrumen penting yang membuat orang bisa mempertahankan kebahagiaan. Sangatlah penting untuk dipahami, bahwa definisi kebahagian setiap orang adalah berbeda-beda. Tetapi satu konsep yang serupa adalah, dengan adanya cinta kasih, kesetiaan, dan kesabaran, orang tidak perlu mencari dan mengejar kebahagiaan, karena dengan hidup penuh cinta, kasih, dan sabar, maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.

 

CATATAN:

 

INI HANYALAH SEBUAH SARAN YANG BUKAN BERSIFAT MUTLAK ATAU ABSOLUT. SIAPAPUN YANG MERASA ADA HAL-HAL YANG MUNGKIN KURANG TEPAT, BISA MENGGANTI SENDIRI DAN DIINTERPRETASI MENURUT PEMAHAMAN YANG DIRASA LEBIH TEPAT.

 

KALAU ADA SARAN-SARAN YANG INGIN DITAMBAHKAN, SILAHKAN DITAMBAHKAN DAN DIEDIT SENDIRI.

 

YANG PENTING PESAN SAYA, FORMAT YANG BERUPA "RACUN, ANTIBODI, DAN CARA" TETAP DIJAGA UNTUK MEMUDAHKAN ORANG DALAM MEMAHAMI APLIKASINYA UNTUK KEHIDUPAN SEHARI-HARI.

 

TOLONG BANTU SAYA UNTUK MENYEBARKAN DAN MEMPERBAIKI ARTIKEL INI SEHINGGA BISA MENJADI BERKAT BAGI BANYAK ORANG. TERIMA KASIH.

Minggu, 15 Februari 2009

Renungan Warta Jemaat 07/09

HUBUNGAN PETRUS & PENERIMA SURATNYA
2 Petrus 1 :1-2

Sapaan Rasul Petrus keada para penerima suratnya sangatlah indah, yaitu : " yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus ". Dari sapaan ini kita dapat melihat dimana Petrus memandang para penerima suratnya - yang adalah warga jemaat tersebar di berbagai gereja - tidak lebih rendah atau berbeda dari diri Petrus sendiri.

Betapa hal ini menunjukkan kerendahan hati seorang Petrus yang adalah seorang Rasul Yesus Kristus. Petrus bukan saja menempatkan diri sebagai salah seorang dari rekan-rekan para penatua jemaat, dia malah menempatkan diri sama dan sederajat dengan warga jemaat biasa. Semangat kerendahan hati hadir dalam diri seorang Rasul Petrus.

Gereja memang membutuhkan orang-orang yang demikian, orang-orang yang memiliki kerendahan hati. Gereja membutuhkan mereka yang " ngelmu padi ", semakin berisi semakin menunduk; bukannya semakin ( merasa) pintar semakin menjadi sombong, tidak dapat didekati dan tidak mau menerima kritikan. Baik mereka adalah pemimpin, maupun setiap orang sebagai bagian dari gereja Tuhan; maka semangat kerendahan hati perlu untuk dimiliki.

Petrus juga mengajar kita untuk mengerti bahwa apabila kita sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus, itu bukan karena kita lebih baik dari pada orang lain. Petrus selalu mengingat bahwa bukan kita yang memilih Yesus, tetapi sang Bapa, melalui Yesuslah yang memilih kita ( Yoh 15:16 ). Ternyata iman kitapun adalah pemberian Allah. Oleh karena itu Petrus ingin agar para pembaca suratnya memiliki suatu keyakinan yang teguh, bahwa mereka sudah dipilih dan diselamatkan oleh Yesus Kristus. Dan oleh keyakinan yang demikian, para pengikut Yesus akan " mewartakan " kabar sukacita ini kepada semua orang.

Disarikan dari Buku Almanak Sinode
Pdt Didik Hartono S.AG - Gembala Jemaat GKMI Pati Cabang Winong


Bacaan FT : 2 Petrus 1 : 1-2
1:1. Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
1:2 Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.